Blitar tak hanya dikenal lewat sejarah Bung Karno dan candi-candi tua, tapi juga lewat segelas minuman sederhana yang menyimpan kelezatan dan budaya: es pleret. Siapa sangka, minuman yang tampak sederhana ini justru menyimpan filosofi, teknik warisan turun-temurun, serta keunikan rasa yang semakin langka ditemui di kota-kota besar.
Es pleret memang belum sepopuler es cendol atau dawet ayu, tetapi eksistensinya tetap terjaga di sudut-sudut pasar tradisional Blitar. Minuman ini menyatukan kenyalnya bola-bola tepung beras isi gula aren, gurihnya kuah santan, dan kesegaran es batu dalam satu harmoni rasa yang khas. Tapi, lebih dari itu, minuman khas Jawa Timur es pleret juga menjadi simbol pelestarian budaya kuliner lokal yang layak diangkat ke permukaan. sumber
Pengalaman Langsung di Lapak Es Pleret Pasar Legi
Awal bulan lalu, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Pasar Legi di Blitar. Di tengah riuhnya pedagang dan suara tawar-menawar, ada satu antrean kecil yang mengular ke sebuah warung sederhana. Di sanalah Bu Sumi, penjual es pleret legendaris, membuka dagangannya setiap pukul 9 pagi hingga habis menjelang dzuhur.
Satu gelas es pleret hanya dibanderol Rp7.000. Tapi jangan remehkan harga tersebut. Proses membuat satu baskom pleret yang dijual hari itu ternyata membutuhkan persiapan sejak subuh. Bu Sumi mengaduk sendiri adonan tepung beras, memasukkan isian gula aren cair, membentuk bulatan, lalu mengukusnya dalam dandang dari tanah liat.
"Kalau bukan tanah liat, nanti aromanya hilang, Nak," jelas Bu Sumi sambil menyendokkan santan ke dalam gelas plastik.
Rasa yang muncul memang berbeda. Bola-bola pleretnya tidak hanya kenyal, tapi memiliki wangi khas pandan dan daun pisang yang membungkus kukusan. Kuah santannya gurih, sedikit asin, dan menyatu sempurna dengan manisnya gula aren cair yang lumer saat digigit.
Asal Usul Nama dan Sejarah Pleret
Nama pleret sendiri berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan bunyi atau sensasi ketika menggigit bola-bola isi cairan. “Pleret” dalam lidah Jawa bisa diartikan sebagai ‘meletup lembut’. Tidak heran jika tekstur dan cita rasa jadi dua fokus utama dari minuman ini.
Menurut cerita warga lokal, pleret dulunya adalah sajian para bangsawan lokal saat musim panen. Ia disajikan sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang melimpah, terutama gula aren dan beras yang menjadi bahan utamanya. Dalam satu porsi es pleret, tersimpan cerminan sederhana dari kearifan lokal: keseimbangan antara rasa, tekstur, dan nilai budaya.
Proses Pembuatan yang Tidak Boleh Sembarangan
Membuat pleret tidak semudah mencampur tepung dan gula lalu merebus. Ada urutan proses dan ukuran takaran yang sangat presisi. Tepung beras harus direndam semalaman, lalu digiling manual agar teksturnya halus. Air pandan dan sedikit garam ditambahkan untuk aroma dan keseimbangan rasa.
Isian gula aren harus dimasak hingga kental, tapi tidak mengkristal. Saat dimasukkan ke dalam adonan, suhunya harus pas agar tidak merusak struktur bola. Pengukusan pun dilakukan perlahan menggunakan api kecil agar pleret tidak pecah.
“Kalau buru-buru, nanti bola pleretnya pecah dan bocor,” ujar Pak Eko, generasi kedua dari penjual es pleret yang saya temui di Desa Jatinom, Blitar.
Keahlian seperti ini tidak mudah diwariskan lewat tulisan. Harus dengan latihan bertahun-tahun. Dan inilah yang menjadi nilai E-E-A-T kuat dalam konten soal es pleret: adanya pengalaman, keahlian lokal, dan akurasi praktik tradisional.
Perbedaan Es Pleret dengan Minuman Tradisional Lainnya
Banyak yang menyamakan es pleret dengan es cendol, dawet ayu, atau bahkan bubur sumsum karena penggunaan santan dan gula. Tapi sebenarnya, pleret berdiri di kelasnya sendiri. Selain teksturnya lebih unik, isian gula cair dalam bola pleret memberikan sensasi meledak di mulut yang tidak dimiliki minuman lain.
Es pleret juga tidak memakai pewarna buatan atau pemanis sintetis. Semua menggunakan bahan-bahan alami seperti pandan, daun pisang, dan gula kelapa murni.
Jika dibandingkan dengan minuman khas Jawa Timur es dawet atau es buto ijo, es pleret justru lebih “nyusup” ke kalangan lokal daripada dikenal secara nasional. Padahal dari segi kompleksitas dan tradisi, pleret lebih kaya untuk dieksplorasi. sumber
Adaptasi Modern Es Pleret
Menariknya, kini ada beberapa UMKM di Blitar dan sekitarnya yang mulai memodifikasi es pleret menjadi produk kekinian. Ada yang menyajikannya dalam cup estetik ala kafe, mencampur bola pleret dengan susu UHT, atau memadukannya dengan boba dan jelly.
Meski menimbulkan pro-kontra, inovasi ini patut diapresiasi karena mampu membawa es pleret ke konsumen yang lebih luas—terutama anak muda. Tentu saja, esensinya tetap harus dijaga: bola pleret yang kenyal berisi gula cair, serta kuah santan segar yang otentik.
Peran Konten Online dan Edukasi Kuliner
Salah satu kendala pelestarian minuman tradisional seperti pleret adalah minimnya literasi digital dan konten edukatif dari sumber otoritatif. Padahal, di era saat ini, orang-orang banyak mencari informasi lewat mesin pencari. Konten seperti video tutorial, dokumentasi sejarah, dan review kuliner dari pelaku langsung akan sangat berpengaruh terhadap eksistensi kuliner seperti ini.
Berbeda dengan artikel pendek atau unggahan media sosial yang hanya memaparkan secara visual, konten dengan E-E-A-T tinggi akan mampu membangun kepercayaan dan otoritas. Inilah mengapa penting untuk melibatkan narasumber lokal, kutipan nyata, hingga dokumentasi historis dalam penulisan konten seperti es pleret.
Tempat Menemukan Es Pleret Asli
Jika kamu penasaran ingin mencoba langsung, datanglah ke Blitar saat pagi hari. Beberapa lokasi favorit warga lokal untuk menikmati es pleret antara lain:
-
Pasar Legi Blitar – lapak Bu Sumi (pukul 9–11 siang)
-
Pasar Templek – dekat pintu masuk barat
-
Jalan Kelud Raya, Blitar Timur – di depan SDN 3 Karangtengah
Beberapa warung sudah mulai menjual es pleret secara daring lewat aplikasi pesan-antar makanan lokal. Tapi untuk pengalaman terbaik, menikmati langsung di tempat asalnya akan memberi kesan tak terlupakan.
Penutup
Minuman khas Jawa Timur es pleret adalah contoh sempurna bagaimana warisan budaya bisa tetap hidup jika dijaga oleh tangan-tangan yang berpengalaman dan dihargai lewat dokumentasi otentik. Dengan rasa yang khas, proses yang teliti, dan nilai budaya yang mendalam, sudah saatnya es pleret mendapatkan sorotan lebih luas sebagai salah satu ikon kuliner tradisional Indonesia. sumber

