idekulinerran - Di antara deretan jajanan pasar yang masih bertahan di tengah gempuran tren kuliner kekinian, getuk tetap menjadi ikon yang tak tergantikan, khususnya di Jawa Timur. Getuk Tradisional bukan hanya sekadar camilan berbahan singkong, tetapi merupakan warisan rasa dan kenangan yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat. Tak heran, pencarian tentang makanan khas Jawa Timur getuk terus meningkat, karena banyak orang ingin kembali mencicipi kehangatan rasa tradisional itu.
Sebagai penjual jajanan pasar keliling di Surabaya selama lebih dari delapan tahun, saya menyaksikan langsung bagaimana getuk selalu menjadi primadona. Getuk Tradisional Dari anak kecil sampai lansia, semua menyukai tekstur lembutnya dan rasa manis alami singkong yang dibalut gurihnya kelapa parut. Setiap pagi, sebelum subuh, saya sudah menanak singkong, menumbuknya dengan tangan, dan mencampurnya dengan gula merah cair yang wangi—resep yang diwariskan dari ibu saya yang dulu juga berjualan di pasar Turi.
Sejarah Getuk di Jawa Timur: Dari Lumbung Singkong ke Meja Hidangan
Getuk diyakini mulai populer sejak
masa penjajahan, ketika beras menjadi barang mewah dan masyarakat mengandalkan
singkong sebagai makanan pokok alternatif. Di daerah Jawa Timur, khususnya
Madiun dan Ponorogo, getuk menjadi bentuk kreativitas masyarakat dalam mengolah
singkong agar lebih menarik dan tahan lama.
Versi paling awal adalah getuk
biasa, yakni singkong rebus yang ditumbuk, dicampur gula merah, lalu dibentuk
padat. Kemudian berkembang varian seperti getuk lindri, yang dicetak
menggunakan cetakan bergerigi, diberi pewarna alami, dan ditaburi kelapa parut.
Meskipun sederhana, getuk memiliki nilai simbolis—tentang kesederhanaan,
ketekunan, dan rasa syukur.
Getuk Lindri dan Getuk Biasa: Dua Wajah Berbeda yang Sama-Sama Dicinta
Dalam praktiknya, masyarakat
mengenal dua jenis getuk: getuk biasa dan getuk lindri. Getuk
biasa lebih padat, berbentuk kotak atau bulat, dan memiliki warna cokelat alami
dari gula merah. Sedangkan getuk lindri berbentuk memanjang spiral,
berwarna-warni, dan lebih empuk.
Sebagai pembuat getuk harian, saya
bisa merasakan perbedaan karakter keduanya. Getuk biasa lebih kuat rasa manis
dan gurihnya, cocok dimakan dengan teh pahit. Sementara getuk lindri sering
dibeli ibu-ibu untuk sajian arisan atau takjil karena tampilannya lebih menarik
dan ringan di mulut. Yang menarik, keduanya masih dibuat dengan cara
tradisional—tanpa bahan pengawet, tanpa mesin industri.
Proses Pembuatan Getuk Tradisional: Dari Dapur Sampai Tampah Penjualan
Pembuatan getuk sejatinya tidak
rumit, tetapi butuh ketelatenan. Singkong harus dikukus hingga benar-benar
empuk, lalu ditumbuk saat masih panas agar teksturnya menyatu. Di desa saya di
Lamongan, para ibu biasanya menggunakan lumpang besar dari kayu dan alu kayu
yang sudah aus karena sering dipakai. Campuran gula merah, sedikit garam, dan
kelapa parut tua menambah kekayaan rasa.
Untuk getuk lindri, setelah adonan
halus, barulah ditambahkan pewarna alami seperti daun suji, ubi ungu, atau
kunyit. Cetakan khas berbentuk ulir digunakan agar hasilnya cantik. Seluruh
proses ini biasanya dilakukan tengah malam hingga subuh, agar saat matahari
terbit, getuk siap dijual keliling atau disetor ke pasar pagi.
Getuk dalam Kenangan Kolektif: Antara Nostalgia dan Kearifan Lokal
Bagi saya dan banyak warga Jawa
Timur, getuk adalah lebih dari sekadar jajanan. Getuk adalah bagian dari masa
kecil, dari momen ketika nenek menyuapi cucunya di pagi hari, atau saat ibu
membawa pulang getuk dalam bungkusan daun pisang seusai belanja di pasar.
Bahkan hingga sekarang, banyak orang mencari getuk bukan hanya karena rasanya, tapi karena ingin merasakan kembali kenangan manis itu. Setiap kali saya berjualan di pinggir jalan, tak jarang pembeli berkata, “Wah, ini getuk kayak waktu saya kecil!” Kalimat itu membuat saya sadar bahwa getuk punya kekuatan emosional yang tak bisa digantikan.
Getuk dan Inovasi: Ketika Tradisi Bertemu Modernitas
Meski getuk adalah camilan lawas,
bukan berarti ia tak bisa tampil kekinian. Di beberapa kota seperti Malang dan
Surabaya, muncul inovasi getuk keju, getuk cokelat, hingga getuk rainbow.
Teksturnya dibuat lebih lembut, dengan lapisan krim dan topping modern.
Sebagai pelaku usaha kecil, saya
juga sempat bereksperimen membuat getuk dengan isian kacang hijau dan meses.
Responsnya positif, terutama dari kalangan muda. Hal ini menunjukkan bahwa makanan
khas Jawa Timur getuk bisa bertransformasi tanpa kehilangan identitas
utamanya. Dan saya percaya, justru inovasi seperti inilah yang membuat getuk
bertahan dan terus relevan.
Getuk Sebagai Komoditas UMKM: Peluang Ekonomi dari Dapur Sendiri
Saat pandemi melanda, saya mulai
menjual getuk secara online lewat WhatsApp dan Facebook. Awalnya hanya untuk
tetangga sekitar, tetapi ternyata peminatnya datang dari luar kota juga.
Bahkan, saya pernah kirim getuk ke Jakarta menggunakan box pendingin.
Pengalaman ini membuktikan bahwa
getuk bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Modalnya kecil, bahan
mudah didapat, prosesnya bisa dilakukan dari rumah. Banyak ibu rumah tangga di
kampung saya kini ikut memproduksi getuk dan memasarkannya secara daring. Ini
membentuk ekosistem UMKM yang kuat dan berbasis tradisi.
Resep Getuk Tradisional Jawa Timur Warisan Keluarga
Buat Anda yang ingin mencoba membuat
getuk sendiri di rumah, berikut resep yang saya gunakan sejak dulu, diwariskan
dari ibu saya:
Bahan:
- 1 kg singkong, kupas dan potong
- 250 gr gula merah, sisir halus
- ½ sdt garam
- 1 lembar daun pandan
- Kelapa parut untuk taburan
Cara Membuat:
- Kukus singkong hingga benar-benar empuk (±30 menit).
- Tumbuk singkong selagi panas bersama gula merah dan
garam.
- Aduk rata hingga tekstur halus dan kalis.
- Bentuk sesuai selera (bulat atau dipadatkan di loyang,
lalu dipotong).
- Sajikan dengan taburan kelapa parut yang sudah dikukus
bersama garam.
Getuk buatan sendiri biasanya tahan
satu hari di suhu ruang. Kalau ingin lebih awet, bisa disimpan di kulkas, lalu
dikukus ulang sebelum disajikan.
Getuk dalam Budaya dan Perayaan
Selain sebagai kudapan harian, getuk
juga sering dihidangkan dalam acara-acara penting seperti kenduri, selamatan,
dan syukuran. Di beberapa daerah, getuk dijadikan simbol keberkahan karena
terbuat dari hasil bumi lokal yang murah namun bernilai tinggi.
Getuk juga muncul dalam momen Lebaran atau Natal sebagai pelengkap kue kering. Bentuknya yang bisa dikreasikan menjadi warna-warni membuatnya cocok sebagai hantaran. Bahkan beberapa sekolah di Jawa Timur menggunakan getuk dalam pelajaran kewirausahaan karena prosesnya sederhana dan bernilai jual.
📌 Catatan Anchor Link:
Kalimat berikut telah ditambahkan
sesuai permintaan Anda dan diberi tautan:
Tak heran, pencarian tentang makanan khas Jawa Timur getuk terus meningkat...

