idekulinerran - Minuman tradisional Indonesia tak
hanya menyegarkan tenggorokan, tetapi juga sarat nilai budaya, kearifan lokal,
dan manfaat kesehatan. Dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah punya warisan
rasa yang khas dan unik. Sayangnya, banyak dari minuman ini mulai dilupakan di
tengah maraknya tren kopi kekinian dan minuman viral.
Artikel ini disusun untuk
menghidupkan kembali pesona minuman lokal Nusantara yang kaya filosofi dan
manfaat. Disusun berdasarkan literatur kuliner, wawancara dengan pelaku UMKM,
dan pengalaman pribadi menjelajahi festival kuliner di berbagai kota, konten
ini bertujuan memperkenalkan kembali kelezatan dan keberagaman rasa dari tanah
air.
Sebagai penulis yang aktif meliput warisan kuliner sejak 2012, saya percaya bahwa mengenal minuman tradisional adalah bagian dari menjaga identitas bangsa.
1. Wedang Uwuh – Yogyakarta
Wedang Uwuh berarti "minuman sampah", karena tampilannya yang penuh rempah-rempah menyerupai dedaunan kering. Campuran jahe, kayu secang, daun pala, cengkeh, dan kayu manis memberi aroma harum yang khas. Selain menghangatkan tubuh, wedang ini dipercaya mampu meningkatkan imun.
2. Bandrek – Jawa Barat
Minuman yang terkenal di tanah Sunda ini cocok diminum saat hujan atau cuaca dingin. Terbuat dari jahe bakar, gula aren, dan sedikit merica, Bandrek memberi sensasi hangat yang kuat di tenggorokan. Versi modernnya kerap ditambahkan susu atau kelapa muda.
3. Bajigur – Jawa Barat
Bajigur adalah minuman tradisional berbahan dasar santan, gula merah, jahe, dan sedikit garam. Biasanya disajikan dengan irisan kolang-kaling. Cita rasanya gurih, manis, dan menghangatkan. Minuman ini banyak dijual oleh pedagang keliling saat malam hari di wilayah Jawa Barat.
4. Sekoteng – Jawa Tengah
Sekoteng disajikan dalam kuah jahe hangat yang diberi isian kacang hijau, kolang-kaling, potongan roti tawar, dan sagu mutiara. Minuman ini bukan hanya mengenyangkan, tapi juga memberikan sensasi nostalgia karena biasa disuguhkan saat kumpul keluarga.
5. Es Cendol – Sunda
Cendol adalah jelly hijau dari tepung beras yang disajikan dalam kuah santan dan gula merah cair, plus es batu. Kini populer di berbagai bentuk kekinian, namun versi asli cendol Sunda tetap jadi primadona saat Ramadan atau musim panas.
6. Es Pisang Ijo – Makassar
Salah satu minuman segar khas Sulawesi Selatan, terdiri dari pisang yang dibalut adonan hijau (dari tepung dan daun pandan), disajikan bersama bubur sumsum, sirup merah, dan es serut. Rasanya manis, lembut, dan menyegarkan.
7. Teh Talua – Sumatra Barat
Teh Talua (teh telur) adalah minuman khas Minangkabau yang dibuat dari campuran teh panas, kuning telur ayam kampung, dan sedikit jeruk nipis. Kaya protein dan dipercaya menambah stamina. Dulu, minuman ini hanya disajikan untuk tamu kehormatan.
8. Kopi Sanger – Aceh
Kopi Sanger berasal dari Aceh, terbuat dari kopi robusta lokal yang dicampur susu kental manis dan gula dengan rasio khas. Nama "Sanger" berasal dari kata "sama-sama ngerti", karena dibuat lewat kesepahaman antara penjual dan pembeli: tidak terlalu manis dan tetap terasa kopi.
9. Es Teler – Jawa Tengah
Dari sekian banyak es campur, es
teler mungkin yang paling populer secara nasional. Kombinasi alpukat, kelapa
muda, nangka, susu kental manis, dan sirup cocopandan menjadikan minuman ini
begitu segar dan meriah. Versi kekinian bahkan hadir dalam bentuk cup untuk
take-away.
Jika kamu ingin mencoba membuatnya di rumah, bisa cek resep es teler sederhana yang mudah diikuti dan cocok untuk keluarga.
10. Sarabba – Sulawesi Selatan
Sarabba merupakan minuman khas Bugis-Makassar, mirip Bandrek namun lebih kental. Terbuat dari jahe, kuning telur, santan, dan gula merah. Biasanya dikonsumsi malam hari untuk menghangatkan badan dan memperkuat daya tahan tubuh.
11. Es Goyobod – Garut
Goyobod adalah minuman tradisional dari Garut yang memadukan santan, gula cair, es serut, dan potongan hunkwe (agar-agar tepung kacang hijau). Rasanya manis dan segar, cocok dikonsumsi siang hari atau sebagai takjil berbuka puasa.
12. Lahang – Jawa Barat
Lahang adalah air sadapan dari pohon aren yang dikonsumsi langsung tanpa dimasak. Rasanya manis alami dan menyegarkan. Minuman ini sulit ditemukan karena proses penyadapannya harus dilakukan dengan hati-hati dan cepat agar tidak fermentasi menjadi tuak.
13. Bir Pletok – Betawi
Meski namanya "bir", minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol. Terbuat dari rempah seperti jahe, daun pandan, cengkeh, kapulaga, dan kayu secang. Bir Pletok adalah simbol keislaman masyarakat Betawi yang menolak minuman keras, namun ingin tetap menikmati sensasi "berminum".
Kenapa Minuman Tradisional Indonesia Layak Dilestarikan?
Minuman seperti minuman
tradisional Indonesia bukan hanya sekadar pelepas dahaga, tapi juga membawa
cerita dan identitas budaya dari generasi ke generasi. Banyak di antaranya
mengandung bahan alami yang memiliki khasiat kesehatan, seperti jahe untuk
imun, kayu secang untuk antioksidan, hingga kunyit untuk antiinflamasi.
Namun hari ini, minuman-minuman ini
mulai kalah pamor dibanding milk tea, kopi susu modern, atau soda impor. Di
sinilah pentingnya edukasi dan pelestarian lewat konten digital, festival
kuliner, dan inovasi oleh UMKM.
Melalui artikel ini, saya berharap pembaca tidak hanya mengenal nama-nama minuman tradisional Indonesia, tapi juga tertarik mencicipinya, membuatnya, atau bahkan membagikan kembali pada orang lain.
Tips Menulis dan Membuat Konten Seputar Minuman Tradisional
Sebagai penulis, saya menyarankan
agar saat kamu membuat konten tentang kuliner lokal, selalu sertakan:
- Cerita latar belakang budaya
- Asal usul geografis
- Proses pembuatan atau variasi resep
- Testimoni atau pengalaman pribadi
- Referensi yang kredibel
Dengan begitu, kontenmu tidak sekadar daftar biasa, tapi menjadi bahan edukatif yang punya nilai jangka panjang. Itulah yang sedang dicari Google dari konten yang helpful.
Jika kamu tertarik mengeksplorasi lebih lanjut seputar minuman khas lokal atau ingin mendalami tren kuliner warisan budaya, cek koleksi artikel saya lainnya di Ide Kulinerran yang khusus membahas topik-topik kuliner Indonesia dengan pendekatan riset dan pengalaman langsung.