idekulinerran - Dalam food photography, pemilihan angle sangat menentukan hasil akhir. Jika Anda menggunakan HP, ada tiga sudut utama yang bisa Anda eksplorasi: flat lay (90°), eye-level (0°), dan angle 45°. Setiap sudut memiliki karakteristik dan fungsi tersendiri. Misalnya, flat lay cocok untuk makanan berpola simetris seperti nasi tumpeng mini atau snack box, sementara sudut eye-level sangat efektif untuk minuman berlapis atau burger bertingkat.
Dari pengalaman pribadi, saya sering
menggunakan angle 45° saat memotret makanan dengan tekstur berbeda, seperti
lasagna atau nasi kebuli. Sudut ini memberikan kedalaman visual yang kuat dan
memperlihatkan dimensi makanan secara alami. Uji coba di berbagai kondisi akan
membantu Anda menemukan angle yang paling sesuai dengan jenis jajanan.
Gunakan Cahaya Alami Sebagai Sumber Penerangan Utama
Salah satu kesalahan umum pemula
dalam food photography menggunakan HP adalah bergantung pada flash bawaan.
Padahal, cahaya alami adalah aset terbaik. Jika memungkinkan, lakukan sesi foto
di dekat jendela sekitar pukul 9–10 pagi atau 3–4 sore saat cahaya matahari
masih lembut.
Saya biasa memotret makanan di meja
kayu dekat jendela dapur. Cahaya dari samping (side lighting) memberikan efek
highlight dan shadow yang seimbang. Jika cahaya terlalu kuat, cukup letakkan
kertas kalkir atau tirai tipis sebagai diffuser. Praktik ini jauh lebih efektif
dibanding filter digital karena mempertahankan warna asli makanan.
Setting Manual Kamera HP untuk Kontrol Maksimal
Banyak orang tidak sadar bahwa HP
masa kini—terutama keluaran terbaru Android dan iPhone—memiliki fitur pro
mode. Anda bisa mengatur ISO, white balance, shutter speed, dan fokus
secara manual. Ini sangat membantu dalam mengontrol pencahayaan dan warna
makanan agar tampil alami.
Contohnya, saat memotret makanan
berkuah seperti soto betawi, saya atur white balance ke sekitar 4800K agar
warna kuah tetap hangat, tidak kebiruan. ISO dijaga tetap rendah (sekitar
100–200) agar tidak muncul noise saat di-zoom. Teknik ini hanya bisa dipahami
dengan latihan dan pengalaman langsung, bukan sekadar teori.
Eksperimen dengan Properti dan Background yang Sederhana
Alih-alih menggunakan background
terlalu ramai, fokuslah pada elemen yang menonjolkan karakter makanan.
Background polos seperti kain linen netral, alas kayu rustic, atau piring
keramik matte akan mengarahkan perhatian ke objek utama.
Dalam sesi foto homemade martabak
manis, saya menggunakan properti sederhana seperti talenan kayu, sendok
aluminium vintage, dan serbet putih. Tujuannya adalah menciptakan nuansa
rumahan namun tetap estetik. Komposisi juga saya atur menggunakan teknik rule
of thirds agar foto lebih dinamis.
Optimalkan Komposisi dengan Bantuan Grid dan Mode Portrait
Hampir semua kamera HP saat ini
menyediakan fitur grid. Aktifkan fitur ini agar Anda bisa menyusun
makanan secara proporsional. Garis bantu ini membantu menentukan titik fokus
serta penempatan elemen visual seperti garnish, minuman pendamping, atau
peralatan makan.
Jika makanan utama Anda cukup menonjol, seperti steak atau rice bowl, cobalah mode portrait. Dengan depth effect (bokeh), latar belakang akan sedikit blur, memberi efek profesional seperti kamera DSLR. Namun, pastikan tidak semua elemen penting ikut kabur karena blur terlalu ekstrem bisa menghilangkan detail.
Edit Foto Secara Natural, Jangan Terlalu Filtered
Setelah sesi pemotretan selesai,
Anda bisa mengedit hasil foto dengan aplikasi seperti Snapseed, Lightroom
Mobile, atau VSCO. Namun, ingat prinsip utama: jaga warna makanan tetap
realistis. Jangan gunakan filter yang mengubah warna makanan menjadi tidak
menggugah selera.
Biasanya saya hanya menyesuaikan exposure,
contrast, dan vibrance, tanpa menyentuh saturasi secara berlebihan.
Terutama untuk makanan berwarna hijau seperti salad atau sayur asem, terlalu
banyak saturasi akan membuat warnanya tampak palsu. Keahlian mengedit secara
minimalis ini hanya bisa diasah lewat pengalaman langsung.
Gunakan Format dan Ukuran Gambar Sesuai Platform
Tujuan akhir dari food photography
dengan HP biasanya adalah untuk dibagikan di media sosial atau website. Maka
dari itu, format dan komposisi foto harus disesuaikan. Untuk Instagram, rasio
4:5 atau square 1:1 paling ideal. Sedangkan untuk blog kuliner, landscape
16:9 akan terlihat lebih profesional.
Sebagai food blogger, saya sering
menggabungkan beberapa foto dalam satu konten. Foto hero diletakkan di awal,
lalu disusul dengan detail shot seperti tekstur, irisan dalam, atau step by
step. Dengan cara ini, konten menjadi lebih informatif dan tidak sekadar
visual semata, meningkatkan engagement sekaligus SEO gambar.
Tautkan ke Sumber Tips Food Photography Lainnya
Jika Anda ingin memperluas referensi teknik memotret makanan menggunakan HP, Anda bisa baca juga artikel seputar tips food photography dengan HP yang mengulas pengalaman fotografer makanan profesional dalam berbagai kondisi. Sumber semacam ini dapat menjadi pelengkap ilmu praktis yang lebih mendalam dan berbasis pengalaman nyata.

