idekulinerran - Di tengah terik matahari siang di kota Kediri, segelas es buto ijo terasa seperti penawar dahaga yang paling nikmat. Bukan sekadar minuman segar biasa, es buto ijo menyimpan jejak tradisi, cita rasa lokal, dan kisah panjang dari meja-meja warung legendaris yang tetap bertahan hingga hari ini. Sebagai salah satu minuman khas Jawa Timur, es buto ijo bukan hanya tentang komposisi bahan, tetapi tentang pengalaman yang melekat di lidah dan ingatan.
Saya berkesempatan mengunjungi salah
satu warung tertua yang menjual es buto ijo legengaris sejak tahun 1980-an di kawasan
Jalan Dhoho, Kediri. Warung ini tidak menggunakan spanduk mencolok atau promosi
digital, namun selalu ramai oleh pengunjung setia. Reputasinya menyebar dari mulut
ke mulut, karena kesetiaan mereka menjaga rasa dan tradisi. Inilah yang membuat
saya tertarik menggali lebih dalam—mencicipi langsung dan memahami apa yang
menjadikan es buto ijo begitu istimewa.
Warung Bu Partinah: Menjaga Tradisi dalam Setiap Sajian
Di bawah payung besar yang memayungi
warung sederhana itu, saya bertemu Bu Partinah, pemilik sekaligus peracik utama
minuman ini. Ia menyambut saya dengan senyum hangat. Sambil meracik satu per
satu bahan, ia bercerita bahwa resep es buto ijo miliknya merupakan warisan
dari ibunya.
“Dulu ibu saya jualan di depan
pasar. Sekarang saya teruskan. Cincaunya masih saya buat sendiri dari daun
cincau yang saya tanam di kebun belakang,” ujar Bu Partinah sambil menuangkan
cincau hijau ke dalam gelas plastik besar.
Saya mengamati bahwa komposisi es
buto ijo ini sangat khas: cincau hijau yang lembut dan dingin, tape ketan
putih, kelapa muda serut, santan segar, serta sirup pandan buatan sendiri.
Semuanya disajikan dalam porsi melimpah, penuh sampai ke bibir gelas. Tak ada
bahan instan, tak ada pewarna buatan. Semua berasal dari bahan alami yang
diracik langsung oleh tangan yang berpengalaman.
Cita Rasa Otentik yang Tidak Bisa Dibohongi
Ketika es buto ijo pertama kali
menyentuh lidah saya, sensasinya langsung menghipnotis. Rasa manisnya tidak
berlebihan, teksturnya kaya, dan suhu dinginnya benar-benar menyegarkan. Cincau
hijaunya licin dan lembut, berpadu harmonis dengan gurihnya santan dan aroma
wangi pandan dari sirup buatan rumah.
Tape ketan putih menambah kedalaman
rasa, memberikan kesan sedikit asam manis yang tidak banyak ditemukan pada es
tradisional lainnya. Kelapa muda serutnya segar, menambah tekstur renyah dalam
satu tegukan. Inilah mengapa minuman ini bisa bertahan di hati penggemarnya
selama puluhan tahun.
Tak heran jika banyak wisatawan yang
datang ke Kediri sengaja menyempatkan diri mampir ke warung Bu Partinah. Mereka
ingin merasakan sendiri bagaimana otentiknya minuman khas Jawa Timur es buto
ijo yang dibuat dengan cinta dan pengalaman turun-temurun.
Lebih dari Sekadar Es, Ini Adalah Identitas Budaya
Minuman tradisional seperti es buto
ijo bukan sekadar kuliner, tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal. Di
banyak daerah Jawa Timur, minuman ini menjadi pelengkap penting dalam
acara-acara seperti arisan keluarga, syukuran, hingga pesta rakyat. Di Kediri
sendiri, es buto ijo sering dijadikan simbol penyambutan tamu dari luar kota.
Dalam setiap gelasnya, terkandung cerita tentang kesabaran, keterampilan, dan dedikasi. Para peracik seperti Bu Partinah tidak hanya menjual produk, tapi juga mewariskan nilai. Mereka mengenalkan generasi muda kepada cita rasa tradisional yang pelan-pelan mulai terpinggirkan oleh tren minuman kekinian yang serba instan dan manis berlebihan.
Dari Tradisi ke Digital: Tantangan Menjaga Autentisitas
Namun kini tantangan baru muncul.
Banyak kedai kekinian mencoba menjual “es buto ijo” dengan versi yang
dimodifikasi. Mereka menambahkan topping-topping modern seperti bubble, susu
UHT, atau jeli warna-warni. Sayangnya, banyak di antara mereka melupakan elemen
dasar yang menjadikan minuman ini istimewa: kesederhanaan dan kealamian.
Di sinilah pentingnya menjaga dokumentasi dan memperkenalkan kembali versi asli es buto ijo kepada publik. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melalui media daring. Blog seperti Ide Kuliner Rran sudah mulai memuat artikel-artikel bertema tradisional, termasuk minuman khas Jawa Timur es buto ijo
yang menyampaikan informasi sekaligus edukasi kepada pembaca tentang pentingnya pelestarian kuliner daerah.
Menggali Lebih Dalam: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Dari pengalaman saya mencicipi
langsung es buto ijo di Kediri, ada banyak pelajaran yang bisa diambil.
Pertama, bahwa rasa yang kuat dan autentik lahir dari proses yang tidak instan.
Dibutuhkan kesabaran, keahlian, dan pengalaman untuk mencapai cita rasa ideal.
Kedua, kita tidak bisa memisahkan
makanan atau minuman tradisional dari konteks budayanya. Mereka lahir dari
kebutuhan, tradisi, dan kreativitas masyarakat lokal. Ketika kita
menyederhanakannya hanya menjadi komoditas jualan, kita kehilangan separuh dari
makna aslinya.
Ketiga, menjaga tradisi bukan
berarti menolak perubahan. Justru kita bisa menggabungkan teknologi dan media
modern untuk memperkuat eksistensi kuliner seperti es buto ijo. Mungkin dengan
membuat dokumentasi video proses pembuatan, membuat blog naratif seperti ini,
atau bahkan membantu para penjual tradisional masuk ke dalam platform digital.
Rekomendasi bagi Penikmat Kuliner Tradisional
Bagi Anda yang sedang atau akan
berkunjung ke Jawa Timur, khususnya Kediri, sempatkan waktu untuk mencari
warung es buto ijo yang masih mempertahankan resep lamanya. Jangan hanya
mengejar tempat yang viral di media sosial. Carilah kedai yang tidak mencolok
tapi memiliki rasa autentik dan cerita di balik racikannya.
Perhatikan juga cara mereka
menyajikan. Apakah menggunakan bahan alami? Apakah ada sentuhan personal dari
pemiliknya? Ini akan sangat memengaruhi pengalaman Anda. Jangan lupa bertanya,
berbincang, dan gali cerita mereka. Kadang, kenikmatan kuliner bukan hanya
berasal dari rasa, tapi juga dari cerita dan interaksi di baliknya.
Kesimpulan Sementara: Menjaga yang Asli Itu Penting
Es buto ijo adalah contoh bagaimana kuliner tradisional bisa tetap relevan dan disukai sepanjang masa, asalkan keasliannya dijaga dan diperkenalkan dengan tepat. Dari pengalaman langsung di Kediri, saya belajar bahwa ada nilai-nilai yang lebih penting dari sekadar rasa enak. Ada dedikasi, ada identitas budaya, dan ada semangat untuk terus melestarikan.
.jpeg)
.jpeg)