idekulinerran - Sensasi Rasa dan Sejarah Rawon Setiap daerah di Indonesia punya ciri khas kuliner yang merepresentasikan identitas budaya mereka. Jawa Timur adalah salah satu provinsi dengan kekayaan kuliner yang tak terbantahkan, dan di antara berbagai jenis makanan, rawon menempati posisi istimewa. Rawon bukan sekadar sup daging biasa, melainkan sajian hitam pekat yang menyimpan cita rasa otentik, sejarah panjang, dan pengalaman budaya yang dalam.
Saya pertama kali mencicipi rawon saat perjalanan ke Surabaya beberapa tahun lalu. Kala itu, saya diajak rekan lokal ke warung legendaris di sekitar Pasar Atom. Sensasi Rasa dan Sejarah Rawon Begitu mangkuk rawon disajikan, aromanya langsung menembus hidung—wangi keluak berpadu dengan bumbu rempah seolah menyambut dengan hangat. Kuah hitamnya tampak sederhana, tetapi rasa gurih, sedikit pahit, dan kompleks membuat saya terdiam sesaat. Tidak heran jika rawon kemudian menjadi ikon makanan tradisional Jawa Timur rawon yang terus dilestarikan dan digemari banyak orang dari berbagai generasi. sumber
Sejarah Rawon dan Asal-usul Warna Hitamnya
Asal-usul rawon tidak dapat
dilepaskan dari tradisi kuliner kuno masyarakat Jawa Timur, terutama di kawasan
Surabaya, Malang, dan sekitarnya. Konon, rawon sudah dikenal sejak zaman
Kerajaan Mataram Kuno, di mana hidangan berbahan dasar keluak digunakan untuk
menyajikan makanan istimewa kepada bangsawan.
Warna hitam pada rawon berasal dari
biji keluak yang difermentasi. Meski dari luar tampak seperti batu, di dalamnya
terkandung daging biji yang menjadi bumbu khas rawon. Tidak semua orang bisa
mengolah keluak karena jika tidak tepat, rasanya bisa terlalu pahit atau malah
beracun. Namun justru inilah yang membuat rawon unik—ada keahlian tersendiri
dalam meraciknya. Hingga kini, hanya sedikit makanan di Indonesia yang punya
identitas visual sekuat rawon dengan kuah hitam legendarisnya.
Resep Rawon Autentik Khas Jawa Timur
Untuk Anda yang ingin mencoba
memasak rawon di rumah, berikut resep yang saya kumpulkan langsung dari ibu
pemilik warung rawon legendaris di Taman Bungkul, Surabaya:
Bahan utama:
- 500 gram daging sapi (sandung lamur atau bagian
berlemak)
- 2 liter air
- 3 lembar daun jeruk
- 1 batang serai, geprek
- 2 cm lengkuas, geprek
- Minyak untuk menumis
Bumbu halus:
- 5 siung bawang putih
- 7 butir bawang merah
- 4 butir kemiri
- 1 sdt ketumbar
- 2 sdt garam
- 1 sdt merica
- 3 buah keluak (ambil dagingnya)
Pelengkap:
- Tauge pendek
- Sambal terasi
- Telur asin
- Emping goreng
- Nasi putih hangat
Cara membuatnya cukup sederhana:
rebus daging hingga empuk, tiriskan dan potong dadu. Tumis bumbu halus bersama
daun jeruk, serai, dan lengkuas hingga harum. Masukkan daging dan bumbu ke
dalam rebusan kaldu, biarkan meresap. Sajikan dengan pelengkap untuk cita rasa
rawon yang otentik.
Tempat Makan Rawon Terbaik di Jawa Timur
Berikut beberapa tempat yang
direkomendasikan pencinta kuliner untuk menikmati rawon otentik:
- Rawon Setan – Surabaya
Terkenal karena jam bukanya malam hari dan porsi besar, rawon ini punya kuah gurih pekat dengan daging empuk. - Rawon Kalkulator – Taman Bungkul, Surabaya
Namanya unik karena cara kasir menghitung harga dengan cepat. Tapi yang tak kalah menarik, rasanya benar-benar khas. - Rawon Nguling – Probolinggo & Pasuruan
Termasuk warung rawon tertua, dikenal karena kuahnya yang ringan namun beraroma kuat.
Saat mengunjungi Rawon Nguling tahun lalu, saya berbincang dengan pemilik generasi ketiga yang menyebut bahwa resep rawon mereka tidak pernah berubah sejak 1940-an. "Kami tetap pakai keluak asli hutan, bukan yang budidaya," katanya. Di sinilah saya menyadari bahwa setiap rawon punya "cerita" dan identitas berbeda, yang menjadikannya bagian dari sejarah lokal.
Rawon di Mata Dunia
Dalam beberapa tahun terakhir, rawon
mulai dikenal di luar negeri. Kemenparekraf RI bahkan mempromosikan rawon
sebagai bagian dari Indonesia Spice Up the World, program memperkenalkan
masakan Indonesia di dunia internasional. Beberapa restoran Indonesia di
Belanda dan Australia sudah mulai menyajikan rawon dengan sedikit adaptasi,
misalnya mengganti keluak dengan black garlic demi mendekati rasa aslinya.
Food blogger asal Jepang, Hiroshi
Yamada, pernah menulis di blog-nya bahwa rawon adalah “dark soup with
mysterious deep flavor”. Ulasannya membuat banyak warganet Jepang penasaran
mencicipinya. Ini membuktikan bahwa rawon punya potensi mendunia jika terus
dipromosikan dengan benar.
Kelezatan Rawon dan Nilai Budaya di Baliknya
Rawon bukan sekadar makanan lezat.
Ia adalah simbol dari kekayaan budaya dan warisan nenek moyang. Proses
pengolahan yang memerlukan ketelatenan, serta penggunaan bahan khas seperti
keluak, menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki nilai seni tersendiri.
Saya pribadi merasakan bahwa
menikmati rawon bukan hanya soal mengisi perut. Ia membawa kenangan, cerita,
dan rasa yang tidak bisa digantikan. Dalam setiap sendok, ada sejarah dan cinta
dari mereka yang menjaga tradisi ini tetap hidup. Bahkan, ketika saya mencoba
membuat rawon sendiri di rumah, rasanya tetap tidak bisa menandingi buatan warung
kecil di sudut kota Surabaya itu—mungkin karena di sana, rawon disajikan dengan
hati.
Tips Membedakan Rawon Autentik dengan Versi Modern
Dalam beberapa tahun terakhir,
muncul berbagai versi "rawon fusion", termasuk rawon ramen atau rawon
steak. Inovasi ini tentu menarik, namun untuk para pencinta makanan
tradisional, penting memahami bagaimana rawon autentik berbeda.
Ciri-ciri rawon autentik:
- Menggunakan keluak asli, bukan substitusi.
- Kuah cenderung tidak terlalu kental tetapi
memiliki rasa kompleks.
- Pelengkap khas: tauge pendek, telur asin,
dan sambal terasi.
- Biasanya disajikan di warung atau depot, bukan restoran
modern.
Fusion rawon bisa tetap lezat, namun
esensi budaya sering kali tergerus. Jika Anda ingin merasakan pengalaman
otentik, carilah rawon dari dapur tradisional, bukan dari dapur industrial.
Upaya Pelestarian Rawon di Era Modern
Kini, beberapa komunitas kuliner di
Jawa Timur mulai menggelar festival rawon untuk memperkenalkan makanan
ini ke generasi muda. Beberapa chef lokal juga mulai membuat video dokumentasi
tentang proses pembuatan rawon, termasuk cara memilih keluak terbaik dan teknik
merebus daging.
Langkah-langkah seperti ini sangat
penting, apalagi di era digital saat makanan cepat saji dan konten instan
mendominasi. Jika tidak dilestarikan, bisa jadi generasi selanjutnya hanya
mengenal rawon dari gambar, bukan dari rasa.
Sebagai pecinta kuliner dan penulis, saya merasa punya tanggung jawab untuk terus menulis dan mengangkat cerita di balik makanan tradisional seperti rawon. Karena dengan mengenalnya lebih dekat, kita juga sedang merawat bagian dari identitas budaya bangsa.

