idekulinerran - Sate Nusantara bukan sekadar tusukan daging yang dibakar di atas bara api. Ia adalah warisan kuliner yang merentang dari Sabang hingga Merauke, menyatukan bumbu, aroma asap, dan sentuhan budaya lokal yang begitu kental. Dalam banyak perjalanan kuliner yang saya lakukan, sate selalu menjadi magnet: sederhana tapi sarat rasa, merakyat tapi menyimpan kebanggaan daerah. Lewat artikel ini, saya ingin membagikan pengalaman langsung menikmati beragam jenis sate di berbagai kota—serta mengupas beragam fakta menarik tentang sate yang mungkin belum banyak diketahui publik.
Saya pertama kali jatuh cinta pada
sate saat masih duduk di bangku sekolah dasar di daerah Purwakarta. Waktu itu,
ayah mengajak saya mencicipi Sate Maranggi di pinggir jalan. Daging sapi
yang empuk dengan bumbu kecap yang meresap dan aroma smokey yang menggoda
langsung terekam dalam ingatan saya. Sejak itulah, saya jadi pemburu sate.
Setiap kali bepergian ke kota baru, sate selalu masuk dalam daftar makanan yang
harus saya coba. Dan percaya atau tidak, dari Sate Klathak Yogyakarta
hingga Sate Lilit Bali, semuanya punya keunikan yang membuat saya
semakin terobsesi.
Sate di Setiap Daerah Punya Filosofi Sendiri
Tak banyak yang tahu bahwa jenis
sate di Indonesia bukan hanya dibedakan dari bahan dasarnya, tetapi juga dari
filosofi penyajiannya. Di Madura, misalnya, sate disajikan dengan lontong dan
siraman bumbu kacang yang kental. Di sana, sate bukan hanya makanan, tapi
simbol kebersamaan. Biasanya disajikan saat hajatan atau perayaan penting.
Sedangkan di Solo, Sate Buntel
yang terbuat dari daging kambing cincang yang dibungkus lemak tipis, dibuat
dengan teknik unik. Saya sempat menyaksikan langsung proses pembuatannya di
daerah Lojiwetan. Tukang satenya piawai membungkus daging lalu memutar-mutar
tusukan di atas bara dengan ritme cepat agar lemak meleleh merata. Teknik ini
bukan hanya menjaga kelembapan daging, tapi juga menghasilkan aroma khas yang
menggoda.
Pengalaman Tak Terlupakan Saat Mencicipi Sate Klathak
Pengalaman saya yang paling
mengesankan terjadi di Bantul, Yogyakarta. Di sebuah warung sederhana bernama
Pak Pong, saya mencicipi Sate Klathak, sate kambing muda yang dibakar
hanya dengan bumbu garam dan ditusuk bukan dengan bambu, melainkan jeruji besi.
Awalnya saya skeptis—bagaimana mungkin sate seenak itu tanpa bumbu kacang atau
kecap?
Tapi ternyata, justru kesederhanaan
itulah yang membuat dagingnya ‘berbicara’. Daging kambing muda yang juicy,
dibakar perlahan, disajikan dengan kuah gulai ringan. Sate Klathak mengajarkan
saya bahwa less is more. Ini bukan soal banyaknya bumbu, tapi soal
pemilihan bahan dan teknik yang tepat.
Tak hanya berdasarkan pengalaman
pribadi, saya juga menemukan banyak fakta menarik tentang sate yang menambah
kekaguman saya pada makanan ini. Misalnya:
- Sate masuk Indonesia lewat pengaruh budaya Arab dan
India. Kata ‘sate’ sendiri diyakini
berasal dari bahasa Tamil, ‘catai’, yang berarti daging. Namun diadaptasi
secara lokal dengan bahan dan bumbu Nusantara.
- Ada lebih dari 250 jenis sate di Indonesia, dari yang umum seperti Sate Ayam dan Sate Kambing,
hingga yang unik seperti Sate Ulat Sagu di Papua atau Sate Susu di Bali.
- Sate Indonesia pernah diakui dunia internasional. CNN Go menempatkan sate sebagai salah satu dari 50
makanan terenak di dunia pada 2011.
- Teknik membakar dengan arang batok kelapa bisa menambah rasa smokey yang lebih dalam dibanding kayu biasa. Banyak penjaja sate legendaris yang tetap mempertahankan cara ini karena hasil akhirnya jauh lebih harum.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa
sate bukan hanya populer, tapi juga kaya sejarah dan terus berkembang.
Sate Modern vs Tradisional: Mana yang Lebih Unggul?
Di tengah geliat industri kuliner
modern, sate juga mengalami evolusi. Saya pernah mencoba sate wagyu di
sebuah restoran mewah di Jakarta. Dagingnya lembut, bumbunya cenderung
manis-asam ala fusion Jepang. Memang menarik, tapi buat saya, rasa otentik dari
sate tradisional tetap tak tergantikan.
Dalam konteks ini, saya jadi
teringat pada topik perbandingan antara makanan
khas daerah vs modern. Ada nilai budaya dan rasa emosional dalam
setiap tusukan sate tradisional yang tak bisa direplikasi oleh eksperimen
modern, seberapa pun mahalnya bahan yang digunakan.
Sate dan Identitas Lokal: Studi Kasus di Bali dan Makassar
Saat berkunjung ke Bali, saya
menemukan bahwa Sate Lilit bukan hanya makanan, tapi bagian dari upacara
adat. Terbuat dari ikan atau ayam yang dicincang, diberi kelapa parut, bumbu
basa genep, lalu dililitkan pada batang serai atau bambu gepeng. Rasanya gurih,
aromatik, dan menyatu sempurna dengan nasi putih dan sambal matah.
Sementara itu, di Makassar, saya
mencoba Sate Hati Ampela dan Sate Ati Sapi yang dibumbui dengan rica
pedas. Berbeda dengan daerah Jawa yang cenderung manis, sate di Makassar
mengedepankan rasa pedas dan kuat. Ini menunjukkan betapa sate bisa
bertransformasi sesuai karakter daerahnya.
Kenapa Sate Tetap Dicintai Sepanjang Masa?
Jawabannya sederhana: fleksibilitas.
Sate bisa dibuat dari ayam, sapi, kambing, ikan, bahkan tahu. Bisa dibumbui
dengan kacang, kecap, sambal, atau cukup garam. Bisa disajikan dengan lontong,
nasi, atau dimakan begitu saja. Ia bisa ditemukan di warung pinggir jalan,
gerobak keliling, atau restoran berbintang lima.
Lebih dari itu, sate adalah makanan yang menghubungkan generasi. Saya makan sate bersama ayah saya saat kecil, dan kini saya sering membelikan sate untuk anak saya sendiri. Ada nilai sentimental yang dibawa dari satu tusukan ke tusukan lain.

