idekulinerran - Kuliner Indonesia terus berkembang dari waktu ke waktu. Di satu sisi, makanan tradisional atau makanan khas daerah tetap eksis sebagai simbol warisan budaya. Di sisi lain, makanan modern yang praktis dan tampilannya menarik semakin mendominasi, terutama di kalangan anak muda. Perdebatan soal makanan khas daerah vs modern pun tidak bisa dihindari karena keduanya memiliki tempat tersendiri dalam hati masyarakat.
Sebagai penikmat kuliner sekaligus
pengamat tren makanan di media sosial dan lapangan, saya melihat fenomena ini
bukan sekadar tren sesaat. Ada dinamika sosial dan budaya yang ikut berperan di
baliknya. Artikel ini akan membahas secara objektif bagaimana makanan khasdaerah vs makanan modern saling berkompetisi dan berkolaborasi di era digital,
serta bagaimana publik bisa menyikapinya secara bijak.
Artikel ini ditulis oleh Aulia,
penulis kuliner dan SEO specialist yang sudah lebih dari 10 tahun
mengeksplorasi ragam kuliner nusantara dari Sabang sampai Merauke. Riset
dilakukan lewat wawancara UMKM, observasi langsung di lapangan, dan analisis
tren di media sosial kuliner populer.
Keunikan Tak Tergantikan dari Makanan Khas Daerah
Makanan khas daerah selalu membawa
cerita. Ia bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang filosofi, kearifan
lokal, dan kebersamaan. Ambil contoh rendang dari Minangkabau. Selain rasanya
yang kaya rempah, rendang juga mencerminkan nilai kesabaran dalam proses
memasaknya yang memakan waktu berjam-jam.
Hal serupa berlaku pada gudeg Jogja
yang manis dan lembut, mencerminkan watak masyarakatnya. Atau papeda dari
Papua, yang dimakan dengan ikan kuah kuning, menunjukkan kekuatan budaya
maritim timur Indonesia.
Makanan khas ini dibuat dengan
teknik yang diwariskan turun-temurun, bukan hanya demi rasa, tetapi juga
menjaga identitas. Oleh karena itu, eksistensinya tidak bisa digeser begitu
saja oleh tren makanan instan.
Popularitas Makanan Modern dan Daya Tariknya
Di sisi lain, makanan modern seperti
Korean street food, dessert box, dan berbagai fusion food terus mencuri
perhatian. Daya tarik visual, kemasan praktis, dan rasa yang “pop” membuatnya
viral di media sosial. Ditambah lagi, makanan modern mudah disesuaikan dengan
selera pasar.
Contohnya adalah croffle (croissant
waffle) yang beberapa tahun belakangan ini populer di Indonesia. Padahal,
aslinya makanan ini bukan dari Indonesia. Tapi karena tampilannya cantik dan
mudah dikreasikan, croffle cepat diterima oleh pasar lokal.
Makanan modern juga cenderung lebih
praktis dari sisi bisnis. UMKM dapat menjualnya lewat aplikasi online food
delivery, dengan modal yang tidak terlalu besar. Inilah sebabnya banyak pelaku
bisnis makanan generasi muda lebih memilih makanan kekinian daripada makanan
tradisional yang prosesnya lebih kompleks.
Gaya Hidup Urban dan Perubahan Preferensi
Tren makanan modern juga tidak lepas
dari perubahan gaya hidup masyarakat urban. Kesibukan kerja, mobilitas tinggi,
dan keinginan untuk selalu update di media sosial mendorong orang memilih
makanan yang cepat saji dan “Instagramable”.
Sementara makanan khas daerah
umumnya memerlukan waktu dan keahlian khusus, makanan modern bisa diproduksi
cepat dan massal. Faktor ini memengaruhi preferensi konsumen yang lebih
mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan.
Namun perlu dicatat bahwa preferensi ini tidak berarti masyarakat meninggalkan makanan khas daerah. Banyak juga masyarakat yang tetap menikmati makanan tradisional, hanya saja dalam momen tertentu, misalnya saat pulang kampung, arisan keluarga, atau acara adat.
Kolaborasi Dua Dunia: Tradisional dan Modern
Saat ini mulai banyak pelaku kuliner
yang memadukan makanan tradisional dengan pendekatan modern. Contohnya adalah
martabak rendang, seblak carbonara, atau nasi goreng keju mozzarella. Kreasi
ini mencoba menjembatani selera masa kini dengan cita rasa lokal.
Strategi ini terbukti efektif
menarik perhatian pasar. Dengan mengangkat nama masakan daerah dan memberi
sentuhan modern pada penyajian maupun bahan, pelaku usaha bisa menjangkau dua
segmen sekaligus: pencinta makanan khas daerah dan penggemar makanan kekinian.
Inilah yang disebut sebagai bentuk
kuliner kontemporer: mengawinkan kekayaan masa lalu dengan inovasi masa kini.
Peran Media Sosial dalam Mempopulerkan Makanan
Media sosial berperan besar dalam
menyebarluaskan makanan modern. Namun makanan khas daerah juga bisa mendapatkan
eksposur besar jika dikemas dengan visual yang menarik.
Beberapa food vlogger seperti Gerry
Girianza, Devina Hermawan, hingga akun komunitas seperti Kuliner Nusantara
membuktikan bahwa makanan khas pun bisa viral jika disajikan dengan pendekatan
visual dan storytelling yang kuat.
Tak heran jika sekarang kita sering
melihat video nasi jamblang, sate maranggi, atau mie Aceh di TikTok dan
Instagram yang ditonton jutaan kali. Hal ini menunjukkan bahwa makanan
tradisional tidak kalah menarik, asal dikemas dengan cara yang relevan untuk
generasi digital.
Tantangan dalam Melestarikan Makanan Khas Daerah
Meski potensinya besar, makanan khas
daerah menghadapi tantangan serius. Salah satunya adalah regenerasi. Banyak
anak muda enggan belajar membuat makanan tradisional karena prosesnya dianggap
rumit dan tidak menguntungkan secara ekonomi.
Selain itu, tidak semua bahan baku
makanan daerah tersedia secara luas. Hal ini membuat beberapa kuliner lokal
sulit diproduksi massal atau dipasarkan secara luas.
Peran pemerintah, akademisi, dan
komunitas kuliner sangat penting dalam mengatasi tantangan ini. Misalnya dengan
memberikan pelatihan, pendampingan UMKM, hingga insentif bagi pelaku usaha
makanan tradisional.
Menumbuhkan Kesadaran Kuliner di Kalangan Generasi Muda
Pendidikan kuliner sejak dini bisa
menjadi solusi jangka panjang. Sekolah dan komunitas dapat memasukkan tema
makanan tradisional ke dalam kurikulum muatan lokal. Sementara itu, media
digital bisa digunakan untuk mengenalkan sejarah, proses, dan filosofi makanan
khas.
Generasi muda adalah penentu arah
kuliner Indonesia ke depan. Jika mereka hanya mengenal makanan modern dari
luar, maka perlahan-lahan kekayaan kuliner lokal bisa tergeser. Di sinilah
pentingnya kampanye digital kreatif untuk mempromosikan makanan khas daerah.
Pilihan
Bukan Perdebatan: Keduanya Bisa Berdampingan
Sebenarnya, tidak perlu
memperdebatkan soal mana yang lebih baik antara makanan khas daerah dan makanan
modern. Keduanya memiliki nilai dan fungsi masing-masing. Makanan tradisional
adalah identitas, makanan modern adalah inovasi. Kombinasinya justru bisa
memperkuat ekosistem kuliner Indonesia.
Banyak pelaku industri kuliner kini
menggunakan pendekatan dua arah: menjaga warisan dengan tetap mengikuti selera
pasar. Ini adalah langkah cerdas yang tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga
menjawab kebutuhan ekonomi dan gaya hidup saat ini.
Jika Anda ingin membaca lebih dalam tentang isu ini, kami merekomendasikan panduan kuliner makanan khas daerah vs modern yang mengupas tuntas perkembangan kuliner di Indonesia dari perspektif budaya dan bisnis.

