idekulinerran - kuliner Minang Pagi itu, kabut masih menyelimuti
Pasar Ateh di Bukittinggi. Di antara deretan pedagang kaki lima, seorang ibu
paruh baya menawarkan lamang tapai—ketan bakar dalam bambu yang
disajikan dengan fermentasi tapai hitam. Ini bukan sekadar makanan tradisional;
ini pengalaman. Saya mencicipi langsung dari bungkus daun pisangnya, hangat,
manis, dan asam yang berpadu unik.
Sang ibu, Uni Nur, bercerita bahwa
ia membuat tapai sendiri dari beras ketan hitam lokal yang difermentasi tiga
hari penuh menggunakan ragi warisan keluarganya. Tidak semua orang bisa bikin
tapai selembut itu, katanya, kuliner Minang sambil tersenyum bangga. Sensasi rasa ini sulit
dijelaskan lewat kata-kata—harus dicoba langsung. Dari sinilah saya sadar bahwa
kuliner khas Minang bukan sekadar olahan rasa, tapi peristiwa budaya.
Ketika Rendang Bukan Sekadar Daging Empuk
Rendang memang sudah mendunia. Tapi,
hanya yang pernah mencicipinya langsung di dapur keluarga Minang yang tahu: rendang
adalah upacara rasa. Di rumah salah satu kenalan saya di Solok, saya ikut
membantu mengaduk rendang hitam yang dimasak selama lebih dari 6 jam.
Uni Diah, ibu rumah tangga setempat,
menjelaskan tiap tahap: dari penumisan bumbu halus, pemasakan santan, hingga
proses karamelisasi alami yang membuat warna rendang menjadi gelap dan
berminyak. “Rendang bukan makanan harian,” katanya. “Ini masakan untuk
menghormati tamu, pesta, atau hajatan besar.” Di balik kelezatannya, rendang
mengandung makna sosial yang dalam. Dan itu tidak bisa didapatkan dari rendang
instan di kota.
Gulai Tambusu: Petualangan dalam Isi Usus Sapi
Salah satu makanan paling
mengejutkan yang saya cicipi di Payakumbuh adalah gulai tambusu. Terbuat
dari usus sapi yang diisi campuran telur, tahu, dan santan, makanan ini menjadi
sajian istimewa yang memerlukan teknik tinggi.
Warung milik Uni Yanti—seorang juru
masak lokal—menjadi tempat pertama saya mencicipinya. Ia mengungkapkan rahasia
di balik tekstur padat isian tambusu: “Harus direndam dulu dengan daun kunyit
dan air kapur sirih semalaman. Kalau langsung dimasak, pasti lembek.” Teknik
memasaknya sangat tradisional, dengan santan kental dan bumbu andaliman.
Hasilnya, gulai tambusu ini terasa lembut, legit, dan sedikit
pedas—meninggalkan rasa penasaran setelah suapan terakhir.
Soto Padang dan Sensasi Daging Goreng Renyah
Berbeda dengan soto khas daerah
lain, Soto Padang menghadirkan keunikan tersendiri: kuah bening namun
kaya rempah, bihun halus, dan irisan daging sapi goreng kering. Saya mencicipinya
di salah satu kedai tua di Simpang Haru, Padang. Tidak ada menu, tidak ada
papan nama. Hanya suara riuh pelanggan setia dan aroma cengkeh yang menyeruak
dari mangkuk soto.
Yang menarik, si penjual masih menggunakan batu gilingan untuk membuat bumbu dasar soto, bukan blender. Ini menciptakan tekstur rempah yang lebih “terasa” di mulut. Tambahan kerupuk merah dan perasan jeruk nipis membuatnya semakin segar dan menggugah selera. Di sinilah saya benar-benar memahami bahwa kesederhanaan bisa menjadi bentuk keahlian dalam kuliner Minang.
Dendeng Batokok dan Filosofi Menyambut Tamu
Jika rendang adalah simbol
penghormatan, maka dendeng batokok adalah cara masyarakat Minang
menyambut tamu dengan penuh selera. Nama “batokok” merujuk pada proses
memukul-mukul daging sapi agar menjadi pipih sebelum dibakar dan dibumbui.
Saya menyaksikan sendiri proses ini
di Lintau Buo, ketika seorang tetua adat menjamu tamu dari luar daerah. Setelah
dibakar, daging dilumuri sambal lado mudo (cabe hijau) yang ditumis dengan bawang
dan minyak kelapa tua. Rasanya tajam, gurih, dan memberikan sensasi hangat
hingga ke dada. Semua ini bukan sembarang masakan. Ada nilai keterbukaan dan
penerimaan yang dihadirkan lewat makanan ini.
Sala Lauak: Makanan Ringan Penuh Cerita
Tak lengkap membahas kuliner khas
Minang tanpa mencicipi makanan ringan seperti sala lauak. Makanan
ini berbentuk bola kecil dari campuran ikan teri dan tepung beras yang digoreng
garing.
Saya menemukannya di Pantai
Gandoriah, Pariaman. Penjualnya, seorang bapak tua bernama Pak Etek, sudah
berjualan sejak 1975. Ia bercerita bahwa resep sala lauaknya diwariskan dari
ibunya. Dengan aroma khas ikan laut segar dan tekstur renyah di luar namun
lembut di dalam, sala lauak adalah bukti bahwa kuliner kecil pun bisa menyimpan
nilai budaya besar.
Bagi kamu yang ingin menjelajahi
lebih banyak cerita dan pengalaman tentang makanan khas ini, bisa membaca
artikel selengkapnya di blog berikut:
👉 kuliner khas Minang
Es Tebak dan Warna Rasa Minang yang Dingin
Mungkin terdengar aneh memasukkan es
dalam daftar kuliner Minang yang otentik. Tapi es tebak adalah
pengecualian. Saya menemukannya di Bukittinggi saat cuaca mencapai 34 derajat
siang hari.
Es ini terdiri dari campuran santan,
sirup merah, kolang-kaling, dan biji selasih—mirip es campur, tapi memiliki
rasa khas karena penggunaan santan segar dan sirup tradisional. Di sebuah kedai
yang dikelola oleh generasi ketiga keluarga Haji Sirin, saya duduk bersama
warga lokal menikmati minuman ini sambil mendengarkan kisah sejarah keluarga
mereka yang dahulu adalah pedagang sirup asli dari Padang Panjang.
Es tebak bukan sekadar penyejuk
tenggorokan, melainkan narasi dingin dari tanah Minangkabau yang hangat dalam
penyambutannya.
Membawa Pulang Rasa Minang, Bukan Sekadar Resep
Satu hal yang saya pelajari dari perjalanan kuliner ini: kuliner khas Minang tidak hanya tentang apa yang ada di piring, tapi tentang siapa yang memasaknya, bagaimana prosesnya, dan nilai apa yang mereka wariskan lewat makanan itu. Dari rendang hingga es tebak, dari sala lauak hingga gulai tambusu, semuanya merepresentasikan jiwa Minangkabau—kuat, berlapis, dan penuh cerita.