idekulinerran - Angkringan Jogja selalu punya cara unik menyambut siapa saja yang datang. Salah satunya melalui angkringan—tempat makan sederhana yang buka malam hari, menjual nasi kucing, sate usus, teh panas, dan tentunya penuh cerita. Namun bagi saya, kuliner angkringan bukan cuma tempat mengisi perut murah meriah. Ia adalah ruang nostalgia, ruang dialog, dan tempat pulang.
Artikel ini bukan sekadar daftar angkringan. Ini adalah catatan perjalanan saya menyusuri beberapa angkringan ikonik di Jogja. Sebuah review angkringan Jogja yang tidak hanya melihat dari luar, tetapi merasakan langsung dari meja plastik, obrolan hangat, dan aroma arang.
Angkringan Lik Man: Kopi Joss dan Hiruk Pikuk Stasiun Tugu
Saya mengawali malam dari Angkringan
Lik Man, yang hanya berjarak beberapa langkah dari Stasiun Tugu. Saat saya
datang pukul 8 malam, suasananya sudah padat. Bangku-bangku kayu dipenuhi
pengunjung dari berbagai kalangan—pelajar, musisi jalanan, bahkan pekerja
kantor yang baru pulang.
Saya memesan satu kopi joss,
minuman legendaris dengan arang membara dicelup ke dalam kopi hitam. Suara
“cesss!” terdengar saat arang menyentuh cairan panas. Aromanya khas, ada
sensasi terbakar yang menggugah.
Rasa kopi ini pahit, namun tidak getir. Arang memberi karakter smoky yang tidak ditemukan pada kopi biasa. Menikmati kopi joss sambil mengamati lalu-lalang kereta benar-benar mengingatkan saya bahwa Jogja tidak hanya hidup pada siang hari.
Angkringan Pak Jabrik: Sudut Malioboro yang Ramai Tapi Ramah
Berjalan kaki sekitar 10 menit ke
arah Malioboro, saya singgah di Angkringan Pak Jabrik. Lokasinya berada
di emperan toko yang sudah tutup. Di sini, yang menarik perhatian saya bukan
hanya nasi kucingnya, tapi suasana sosialnya.
Seorang mahasiswa UGM di samping
saya menawarkan tempe mendoannya yang masih hangat. Kami berbincang tentang
film dan buku, sambil memesan teh jahe manis dan sate telur puyuh.
Makanan di sini sangat terjangkau, hanya sekitar Rp2.000–Rp5.000 per tusuk atau
bungkus.
Yang membuat saya betah bukan hanya makanannya, tapi keterbukaan antarpengunjung. Angkringan ini terasa seperti ruang tamu publik tempat orang asing bisa jadi teman dalam 10 menit.
Angkringan Wijilan: Nasi Kucing Rasa Tradisi
Di sisi timur Kraton, saya menemukan
Angkringan Wijilan, tersembunyi di antara deretan warung gudeg.
Lokasinya memang tidak terlalu besar, tapi pilihan makanannya lebih bervariasi.
Saya mencoba nasi kucing sambal teri dan sate kulit ayam, yang rasanya lebih
pedas dan gurih dibanding angkringan lain.
Pemiliknya, Pak Kumis, menyapa saya
sambil bercerita bahwa ia sudah berjualan sejak tahun 1999. Ia menyebut setiap
sambal dibuat sendiri oleh istrinya setiap sore. Ini mungkin alasan mengapa
rasa sambalnya lebih segar dan tidak berbau tengik seperti di beberapa angkringan
instan.
Kalau kamu mencari angkringan dengan rasa otentik khas rumahan, tempat ini patut dikunjungi.
Angkringan D’Klothek: Musik Live dan Sensasi Kekinian
Dari sisi tradisional, saya bergeser
ke sesuatu yang lebih modern—Angkringan D’Klothek di Jalan Mataram.
Tempat ini populer di kalangan anak muda karena menghadirkan live music
akustik, mural tembok artsy, dan pilihan menu kekinian seperti nasi keju
bakar dan sate taichan.
Meski konsepnya kekinian, mereka tetap menjaga ciri khas angkringan: harga murah, suasana santai, dan kebebasan ngobrol. Saya mencoba nasi telur asin dan es teh serai. Menunya sedikit lebih mahal dari angkringan pinggir jalan, tapi suasana dan fasilitas membuatnya worth it.
Angkringan Kali Code: Menikmati Angin Malam di Tepi Sungai
Angkringan favorit saya adalah yang
paling sederhana: Angkringan Kali Code, terletak di jembatan kecil di
dekat Selokan Mataram. Tanpa nama besar, tanpa spanduk. Hanya gerobak kayu, tikar
plastik, dan lampu bohlam kuning.
Saya datang hampir tengah malam, dan angin dari sungai membuat suasana syahdu. Di sini, saya menikmati nasi oseng tempe, satu tusuk sate ati, dan air jeruk hangat. Duduk di tepi jembatan, melihat lampu kota dari kejauhan sambil makan dengan tangan langsung dari daun pisang—pengalaman ini tak bisa dibeli di restoran mana pun.
Pentingnya Menyesuaikan Ekspektasi: Tidak Semua Angkringan Sama
Banyak orang berharap semua
angkringan menyajikan rasa luar biasa. Tapi sebenarnya, pengalaman di
angkringan bukan soal rasa semata. Ini soal suasana, interaksi, dan
kehangatan sosial. Angkringan adalah tempat bertemu dan berbagi, bukan hanya
makan.
Inilah yang membedakan artikel ini dari daftar semata. Bukan hanya mencatat nama dan alamat, tapi membawa kamu ikut serta dalam pengalaman makan malam yang jujur dan nyata.
Simpulan Tengah: Mengapa Harus Jelajah Angkringan?
Jika kamu baru pertama kali ke
Jogja, atau ingin menyelami budaya lokal lebih dalam, jelajah angkringan
adalah cara terbaik untuk memahami denyut kota ini. Dari angkringan modern
yang ramai, hingga sudut-sudut sunyi yang memberi ruang refleksi—semuanya ada.
Kalau kamu butuh referensi lengkap dan personal soal tempat-tempat yang saya kunjungi tadi, kamu bisa membaca review angkringan Jogja di blog saya yang lebih mendalam, lengkap dengan foto, jam operasional, dan rute termudah.
Tips Menjelajahi Angkringan Jogja untuk Pertama Kali
- Datang setelah pukul 19.00 – Sebagian besar angkringan buka setelah maghrib.
- Bawa uang tunai receh
– Beberapa tempat tidak menyediakan QRIS.
- Jangan ragu ngobrol
– Budaya ngobrol di angkringan adalah bagian dari pengalamannya.
- Coba menu berbeda di setiap tempat – Setiap angkringan punya spesialisasinya sendiri.
- Hindari jam makan malam di tempat viral – Jika tidak ingin antre lama, datang lebih awal atau lebih larut malam.