idekulinerran - Soto Lamongan bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas kuliner Jawa Timur yang telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Kuah kuning khas, ditambah koya gurih dari kerupuk udang dan bawang putih, menjadikan soto ini berbeda dari jenis soto lainnya. Tidak mengherankan jika Soto Lamongan tak hanya terkenal di daerah asalnya, tetapi juga menyebar ke berbagai pelosok Indonesia melalui pedagang kaki lima, rumah makan, hingga restoran ternama.
Makanan tradisional ini bukan hanya
soal rasa, melainkan juga soal cerita. Mulai dari sejarah kemunculannya di
Lamongan, adaptasi dari resep keluarga, hingga kisah para penjual yang merantau
ke kota besar dan memperkenalkan rasa otentik yang mereka bawa dari kampung
halaman.
Pengalaman Mencicipi Soto di Pasar Lamongan
Pertama kali saya mencicipi soto
Lamongan langsung di tempat asalnya, suasananya begitu membekas. Saat itu
sekitar pukul tujuh pagi, warung sederhana milik Bu Karni di dekat Pasar
Sidoharjo sudah dipenuhi pengunjung. Dindingnya dipenuhi kalender, foto-foto
lama, dan sepeda ontel tergantung di sisi belakang—tanda bahwa warung ini telah
berdiri sejak lama. Ketika semangkuk soto disajikan, aroma kaldu ayam kampung
langsung tercium, berpadu dengan gurihnya koya yang ditabur melimpah.
Saya menyendok soto perlahan.
Kuahnya kental dan harum. Potongan daging ayam kampungnya lembut, digoreng
sebentar sebelum disiram kuah panas. Tidak ketinggalan potongan telur rebus,
irisan kol, dan taburan seledri yang memperkaya rasa. Dalam sekejap, mangkuk
itu kosong, dan saya sadar bahwa rasa yang saya alami ini tak bisa direplikasi
sempurna di luar Lamongan. Itulah kekuatan dari makanan berbasis tradisi dan
pengalaman.
Asal Usul Soto Lamongan dan Penyebarannya
Soto Lamongan dipercaya mulai
dikenal luas sejak tahun 1950-an. Awalnya hanya dijajakan oleh warga lokal
Lamongan di pasar dan pinggir jalan. Seiring waktu, banyak warga Lamongan yang
merantau ke kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan membawa resep
soto ini.
Uniknya, para perantau ini tidak
mengubah banyak dari resep asli mereka. Mereka tetap mempertahankan koya sebagai
elemen penting, walau seringkali menyesuaikan porsi atau lauk tambahan sesuai
selera konsumen daerah masing-masing. Koya sendiri dibuat dari kerupuk udang
yang digiling halus bersama bawang putih goreng. Inilah rahasia kekayaan rasa
Soto Lamongan yang tidak dimiliki soto-soto dari daerah lain.
Resep Autentik Soto Lamongan
Berikut adalah resep khas yang
banyak digunakan oleh warga Lamongan asli:
Bahan:
- 1 ekor ayam kampung, belah dua
- 2 liter air
- 3 lembar daun jeruk
- 2 batang serai, memarkan
- 2 sdm minyak untuk menumis
- Garam, gula, dan kaldu jamur secukupnya
Bumbu halus:
- 6 butir bawang merah
- 4 siung bawang putih
- 3 butir kemiri, sangrai
- 1 sdt kunyit bubuk atau 2 cm kunyit segar
- 1 cm jahe
- 1 cm lengkuas
- 1 sdt ketumbar
- ½ sdt merica
Pelengkap:
- Koya (kerupuk udang + bawang putih goreng, dihaluskan)
- Telur rebus
- Kol iris tipis
- Soun atau bihun
- Daun bawang, seledri, bawang goreng
- Sambal dan jeruk nipis
Cara membuat:
- Rebus ayam hingga matang, angkat, goreng sebentar, lalu
suwir-suwir.
- Tumis bumbu halus, serai, dan daun jeruk hingga harum.
- Masukkan bumbu ke dalam kaldu rebusan ayam, didihkan.
- Koreksi rasa. Sajikan dengan pelengkap dan taburan
koya.
Dengan mengikuti resep ini, Anda
bisa menciptakan cita rasa makanan khas Jawa Timur soto Lamongan di
rumah sendiri. (https://idekulinerran.blogspot.com/)
Peran Koya sebagai Pembedanya
Dalam dunia kuliner Indonesia,
banyak orang menganggap soto mirip satu sama lain. Tapi Soto Lamongan
membedakan dirinya lewat koya, bumbu kering berwarna krem yang dibuat
dari kerupuk udang dan bawang putih goreng. Koya ini memberikan rasa gurih dan
tekstur yang membuat kuah lebih kaya.
Selain koya, soto ini biasanya tidak memakai santan, berbeda dengan soto Betawi. Keunikan lain adalah penggunaan ayam kampung yang direbus dan digoreng sebentar sebelum disuwir, memberi rasa gurih dan aroma khas pada kuahnya.
Soto Lamongan di Luar Lamongan
Kini, tak perlu datang langsung ke
Lamongan untuk mencicipi soto ini. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung,
dan Denpasar, Anda bisa menemukan gerobak atau warung Soto Lamongan di sudut
jalan. Meskipun begitu, hanya sebagian kecil yang mempertahankan cita rasa asli
dari Lamongan.
Sebagian besar warung sudah
melakukan penyesuaian, baik dari sisi bahan, penggunaan penyedap instan, hingga
topping tambahan seperti perkedel atau sambal kemiri. Hal ini membuat rasa soto
menjadi beragam, tergantung tangan pembuatnya. Namun bagi penikmat kuliner
sejati, soto dari jantung Lamongan tetap menjadi tolok ukur keaslian.
Wawasan dari Penjual Asli Lamongan
Dalam kunjungan saya ke Lamongan,
saya sempat berbincang dengan Pak Wito, penjual soto generasi kedua yang kini
melanjutkan usaha orang tuanya di Desa Sidokumpul. Ia bercerita, "Dulu,
Bapak saya mulai jualan cuma pakai pikulan. Buka dari Subuh sampai jam sembilan
pagi, habis, ya pulang."
Menurutnya, rahasia soto Lamongan
bukan hanya di koya, tapi juga dalam cara mengolah ayam kampung dan kesabaran
dalam membuat kaldu. Ia tidak pernah memakai kaldu instan, karena kaldu ayam
murni dari rebusan tulang selama dua jam sudah cukup membuat rasa soto jadi
kuat.
Kenapa Soto Lamongan Jadi Favorit Banyak Orang?
Ada beberapa alasan kenapa soto ini
disukai banyak orang:
- Ringan di perut:
tidak memakai santan, cocok dimakan pagi atau malam hari.
- Rasa kompleks tapi harmonis: rempah-rempah khas Jawa Timur hadir kuat, tapi tidak
berlebihan.
- Pelengkap fleksibel:
bisa ditambahkan telur, tempe goreng, atau sate usus.
- Cocok untuk semua usia: dari anak kecil hingga orang tua.
Fleksibilitas inilah yang membuat
Soto Lamongan mudah diterima di berbagai daerah.
Menjaga Otentisitas di Tengah Modernisasi
Tantangan terbesar bagi penjual soto
saat ini adalah menjaga keaslian rasa di tengah perubahan zaman. Banyak
bahan-bahan instan dan bumbu pabrikan yang membuat proses masak lebih cepat,
tapi mengorbankan rasa otentik. Penjual asli Lamongan seperti Bu Karni dan Pak
Wito tetap bertahan dengan cara lama—menanak nasi di dandang, mengolah kaldu
dari ayam kampung, dan menggiling koya manual setiap pagi.
Hal inilah yang membuat Soto Lamongan tidak hanya menjadi makanan, tapi juga representasi dari nilai budaya, warisan, dan dedikasi terhadap tradisi kuliner.

