idekulinerran - Di tengah gempuran minuman kekinian, es tradisional khas Betawi tetap bertahan dan bahkan menjadi simbol kekayaan budaya kuliner ibu kota. Tak hanya menyegarkan, es-es ini sarat akan nilai historis dan rasa yang otentik. Dari acara keluarga hingga festival budaya, es khas Betawi selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat.
Berbeda dengan es modern yang
berfokus pada tampilan estetik, minuman tradisional Betawi menawarkan rasa khas
yang terbentuk dari rempah-rempah lokal, gula aren, santan, hingga tape
singkong. Tidak heran jika es-es ini kerap dicari, bukan hanya oleh warga
Jakarta, tetapi juga wisatawan lokal hingga mancanegara.
Artikel ini akan membahas tujuh jenis es Betawi yang legendaris, lengkap dengan sejarah, cara penyajian, dan rekomendasi tempat untuk mencicipinya. Bagi Anda yang ingin mengenal lebih dalam kekayaan kuliner Betawi, artikel ini wajib dibaca hingga tuntas.
1. Es Selendang Mayang: Legenda dari Kota Tua
Es Selendang Mayang adalah primadona dari zaman Batavia. Namanya yang unik
berasal dari tampilan warnanya yang menyerupai kain selendang: merah, putih,
dan hijau. Minuman ini terdiri dari lapisan kue kenyal dari tepung hunkwe,
disiram santan dan larutan gula merah, serta ditambah es serut yang
menyegarkan.
Minuman ini dahulu dijajakan keliling oleh pedagang Betawi menggunakan pikulan. Kini, es Selendang Mayang masih bisa ditemukan di kawasan Kota Tua atau saat festival budaya. Rasa manis gurih dari gula aren dan santan berpadu sempurna dengan tekstur kue yang lembut.
2. Es Goyang: Cita Rasa Masa Kecil
Siapa yang tak kenal Es Goyang?
Es ini mewakili nostalgia anak-anak 80-90an. Dibuat dengan cara digoyang di
dalam cetakan berbentuk lonjong, minuman ini terdiri dari susu, gula, dan
sedikit tepung. Setelah membeku, es ditusuk dengan stik kayu dan dilapisi
cokelat atau meses.
Walau kini jarang ditemui di jalanan, es ini bisa dibuat sendiri di rumah atau ditemukan dalam event kuliner khas Betawi. Es Goyang sangat cocok disajikan saat cuaca panas atau dijadikan nostalgia bersama keluarga.
3. Es Doger: Perpaduan Rasa dan Tekstur
Es Doger sebenarnya berasal dari Jawa Barat, namun sudah sangat
melekat dengan budaya Betawi karena populer di berbagai perayaan adat, termasuk
pernikahan Betawi. Ciri khasnya adalah sirup merah muda dengan isian seperti
tape ketan hitam, alpukat, pacar cina, kelapa muda, dan roti tawar.
Minuman ini menawarkan rasa manis legit dan tekstur yang kaya. Santan dan es serut membuat sensasi segar langsung terasa di mulut. Tak heran jika Es Doger menjadi salah satu favorit di daftar es tradisional khas Betawi.
4. Es Cendol Betawi: Tidak Sama dengan Dawet Jawa
Sering disamakan dengan dawet, Es
Cendol Betawi memiliki karakteristik unik. Cendolnya dibuat dari tepung
hunkwe atau tepung beras dan berukuran lebih besar dari cendol Jawa. Warnanya
juga lebih hijau pekat karena menggunakan daun pandan alami.
Campurannya terdiri dari santan segar, gula aren cair, dan es serut. Es ini biasanya dijual di warung tradisional atau oleh pedagang kaki lima saat bulan puasa. Rasa gurih manisnya sangat cocok dijadikan pelepas dahaga saat cuaca terik.
5. Es Tape Betawi: Fermentasi yang Bikin Segar
Es Tape Betawi adalah salah satu minuman fermentasi lokal yang sangat
khas. Bahan utamanya adalah tape singkong manis yang sudah difermentasi selama
beberapa hari. Tape ini kemudian dicampur dengan es batu, sirup, dan kadang
diberi tambahan susu kental manis.
Aroma khas tape berpadu dengan rasa manis segar membuat es ini sangat digemari oleh para pecinta minuman tradisional. Bahkan, beberapa kedai di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjadikannya menu unggulan di siang hari.
6. Es Puser Bumi: Unik dari Namanya hingga Rasanya
Dinamakan Es Puser Bumi,
minuman ini dahulu disajikan dalam ritual adat Betawi. Bahannya terdiri dari
air gula, kelapa muda, potongan pepaya, dan irisan cincau. Meski jarang
ditemukan di warung biasa, beberapa restoran Betawi otentik masih menyajikan
minuman ini dengan penyajian tradisional.
Paduan manis dan gurihnya memberikan sensasi yang tak biasa, menjadikannya salah satu es tradisional yang paling unik dari sisi sejarah dan kegunaan budaya.
7. Es Shanghai ala Betawi: Versi Lokal dari Tionghoa
Meskipun namanya "Shanghai",
Es Shanghai ala Betawi adalah adaptasi lokal dari es campur yang diisi
dengan kolang-kaling, agar-agar, nangka, alpukat, dan es serut. Bedanya
terletak pada penggunaan santan dan gula merah cair sebagai pemanis utamanya,
bukan sirup merah.
Versi ini lebih kental dengan cita rasa Nusantara, dan biasa disajikan saat perayaan Cap Go Meh atau festival budaya yang merayakan akulturasi Betawi-Tionghoa. Beberapa penjual legendarisnya bisa ditemukan di kawasan Glodok dan Pasar Baru.
Mengapa Es Tradisional Khas Betawi Tetap Eksis?
Ada tiga alasan utama mengapa es
tradisional khas Betawi tidak lekang oleh waktu:
- Cita rasa yang kuat dan otentik. Es-es ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga
menyimpan sejarah kuliner yang panjang.
- Nilai budaya dan warisan lokal. Banyak es khas Betawi yang disajikan dalam acara adat
atau ritual, menjadikannya bagian dari identitas masyarakat.
- Kombinasi bahan alami. Rata-rata es Betawi menggunakan bahan lokal seperti
gula aren, santan, dan rempah-rempah tanpa pengawet.
Tren minuman viral bisa saja berganti cepat, namun es tradisional tetap punya tempat karena menyentuh sisi emosional dan kebudayaan yang lebih dalam.
Tempat Terbaik Menikmati Es Tradisional Khas Betawi
Kalau Anda ingin merasakan langsung
kelezatan es khas Betawi, berikut rekomendasi tempat:
- Setu Babakan
– pusat budaya Betawi yang menyajikan hampir semua es tradisional, lengkap
dengan suasana perkampungan asli.
- Kota Tua Jakarta
– tempat strategis untuk menemukan penjual es Selendang Mayang dan Es
Goyang.
- Festival Kuliner Nusantara – sering menghadirkan booth es khas Betawi dari
berbagai penjuru Jakarta.
- Kedai Betawi Otentik di Jakarta Selatan – seperti Kedai Kita, Rumah Makan Mpok Nini, dan lainnya.
Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Es Tradisional
Untuk menjaga eksistensi es
tradisional khas Betawi, generasi muda perlu ikut serta:
- Mengembangkan resep inovatif tanpa menghilangkan cita
rasa asli.
- Mempromosikan lewat media sosial dengan pendekatan
storytelling.
- Menghidupkan kembali budaya jajan lokal di lingkungan
sekolah dan kampus.